Thursday , February 21 2019
Home / Berita Utama / Hukum Dan Kriminal / Tragis, Faoziduhu Tewas Dibantai Didepan Anak Kandungnya 

Tragis, Faoziduhu Tewas Dibantai Didepan Anak Kandungnya 

BERITA9, NIAS SELATAN – Warga desa Hiliorodua Kecamatan Lahusa Faoziduhu Ndruru (47) tewas dikeroyok. Ia dibantai karena sengketa perbatasan tanah dengan para pelaku. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (21/03), mirisnya lagi, tragedi pembantaian korban terjadi didepan anaknya. Kejadian tersebut sedang ditangani polres Nias Selatan. Pelaku yang merupakan tetangga korban sampai saat ini belum ditangkap oleh pihak yang kepolisian. Diduga kuat, Polsek Lahusa telah berbuat lalai membiarkan pelaku melarikan diri.

Menurut keterangan Dedesri Ndruru (17) anak korban, sebelum pelaku mengeroyok masalah tersebut sedang dimusyawarahkan di tingkat desa yang dihadiri oleh istrinya. “Saat musyawarah didesa kami tidak izinkan ayah saya untuk hadir karena kami sudah dengar isu sebelumnya akan melakukan tindakan untuk main hakim sendiri terhadap ayah,” ungkap Dedesri saat ditemui oleh beberapa media dikediamannya kemarin, Jum’at (24/3).

Dilanjutkan Sri, tidak lama setelah pertemuan di balai desa, salah seorang pelaku mengajak korban untuk melihat batas tanah yang menjadi sengketa tersebut. Tanpa merasa curiga, korban pun menuruti ajakan para pelaku. Setelah sampai dilokasi para pelaku langsung menarik korban dan menghujaninya dengan sejumlah tikaman ke tubuh korban hingga tewas.

Jenazah Faoziduhu Ndruru saat disemayamkan dirumah duka (foto yanus/BERITA9)

“Kejadianya sekitar jam 6 petang, salah seorang dari pelaku memanggil ayah saya untuk melihat perbatasan tanah itu. Setelah sampai dilokasi para pelaku langsung menghampiri ayah, ada yang mencekik lehernya dari belakang, ada yang pegang tangan dan terus ditikam di depan saya. Setelah ayah saya jatuh, salah seorang dari pelaku mengahampiri saya dab mengatakan apa lagi yang kamu lihat bapak mu sudah mati,” ujar Dedesri Ndruru menirukan ucapan salah seorang pelaku. Tidak puas dengan senjata tajam, korban yang sudah tidak berdaya, masih menerima siksaan lagi dengan cara menendang bagian dada dan alat vital korban. Dedesri berkata, proses pembantaian ayah kandungnya itu terjadi di depan mata kepalanya sendiri. “Saat kejadian saya tidak teriak karena takut saya akan dibunuh juga, dan setelah pelaku membunuh ayah saya, berlari sambil meminta tolong kepada warga,” katanya sambil berurai air mata.

Ditambahkan Dedesri, sebelum ayahnya dimakamkan, jenazah korban sempat disemayamkan ditengah jalan karena kecewa pelaku belum juga ditangkap. “Saya berharap pelaku dapat ditemukan dan diberi hukuman yang setimpah seperti yang dialami oleh ayah saya,” harapnya.

Dari pernyataan anak korban, pelaku ada 10 orang dan seorang diantaranya diduga Pegawai Negeri Sipil disalah satu instansi Pemkab Nias Selatan. kejadian tersebut telah dilaporkan di Polsek Lolowau dan sekarang telah ditarik ke Polres Nias Selatan, namun hingga kini para pelaku masih berkeliaran. (red/bhm)

Laporan Biro Nias Selatan, Suherti Yanus Dakhi

5 comments

  1. Penangkapan pelaku sangat diharapkan kepada pihak yg berwenang, jangan biarkan rakyat main hakim sendiri.

  2. Gohizisokhi Giawa

    Halleluya Jesusss Smoga Amal ibadahnya Diterima Tuhan……

    Moga pelakunya cepat ditemukan……
    Perbuatan sadis…….

  3. Tragis kali,,,

  4. Kejam x.
    Seharusnya tersangka harus segera di tangkap.
    Dan di hukum yang seberat beratnya

  5. Kejadian itu harus di proses secepatnya dan di adilkan sesuai dgn hukum yg berlaku…!!!!