Monday , September 23 2019
Home / Internasional / Kepada Wapres AS, JK Ungkap Kecurangan Perdagangan Internasional dan Persoalan Freeport 
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menerima Wakil Presiden AS, Mike Pence di Istana Wapres, Jakarta (foto seskab)

Kepada Wapres AS, JK Ungkap Kecurangan Perdagangan Internasional dan Persoalan Freeport 

BERITA9, JAKARTA – Usai melakukan pembicaraan bilateral dengan Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) Michael Richard Pence, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan bahwa Indonesia masuk dalam daftar 16 negara yang diduga melakukan kecurangan perdagangan dengan AS hanyalah untuk memperpanjang daftar saja.

Menurut JK, tudingan melakukan kecurangan perdagangan tersebut, sebenarnya lebih ditujukan kepada Tiongkok yang lebih banyak mengambil keuntungan dibandingkan dengan Indonesia. Sebab, defisit perdagangan AS dengan Indonesia hanya beberapa miliar dolar dan tidak melebihi defisit perdagangan dengan Tiongkok.

“Itu lebih ditujukan kepada negara-negara yang kaya Tiongkok yang perdagangannya lebih tinggi dari kita. Kalau kita sih masuk daftar executive order-nya mungkin karena supaya daftarnya panjang. Jadi tidak dimaksudkan,” ungkap JK di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (20/4).

Kemudian, JK menjelaskan bahwa hubungan perdagangan Indonesia dengan AS selama ini lebih banyak impor di bidang energi, teknologi, transportasi, dan pertanian.

“Kita banyak sekali mengimpor tapi kita mengekspor juga hasil pertanian. Kita mengekspor palm oil (minyak sawit) ke AS karena sedikit ada masalah saya kita kemukakan masalahnya. Kenapa? Jangan ada pihak-pihak yang ingin menganggap kita dumping soal itu. Sama sekali tak ada karena itu mereka seperti itu,” ungkapnya.

Tingkatkan Strategic Partnership

Lebih lanjut, JK mengungkapkan bahwa kedatangan Pence ke Tanah Air, salah satu tujuannya adalah meningkatkan strategic partnership (mitra strategis) dengan Indonesia. Terutama, di bidang ekonomi.

Oleh karena itu, diungkapkannya akan ada pembicaraan lebih lanjut antara sejumlah menteri terkait dengan pihak AS guna membahas peningkatan kerjasama ekonomi dua negara.

JK hanya menekankan dari pertemuannya dengan Pence, AS lebih menginginkan kerja sama dalam bentuk bilateral dengan Indonesia, dibandingkan kerja sama multilateral.

“Mereka lebih inginkan hubungan itu lebih bersifat bilateral, tidak bersifat multilateral seperti TPP (Trans Pacific Partnership). Karena Indonesia juga tidak masuk TPP karena itu kita akan segera untuk merundingkan strategic partnership khususnya di bidang ekonomi dengan AS. Oleh karena itu, ibu Menlu (Menteri Luar Negeri), Menteri Perdagangan, dan Dubes (Duta Besar) kita akan mempersiapkan pertemuan itu,” ujarnya.

Hanya saja, JK mengungkapkan bahwa Indonesia ingin memahami terlebih dahulu kebijakan “American First” yang diterapkan selama kepemimpinan Donald Trump.

“Pembicaraan tadi dengan Michael Pence menyangkut dua hal, yaitu hubungan ekonomi Indonesia dengan Amerika yang tentu kita ingin pahami dulu yang mereka maksud dengan ‘American First’ ini. Tentu bagi dia bagaimana peningkatan hubungan perdagangan dan investasi di negara lain, seperti Indonesia dan juga bagaimana ada keseimbangan,” ungkapnya.

Sebelumnya, AS diberitakan mengalami defisit perdagangan mencapai US$ 50 miliar. Kemudian, negara yang dipimpin oleh Trump tersebut akan mengeluarkan dua perintah eksekutif untuk mencari penyebabnya. Salah satu yang akan dilakukan adalah menganalisis negara per negara dan produk per produk. Kemudian, hasilnya akan dilaporkan pada Presiden Donald Trump dalam 90 hari.

Sebagaimana ramai diberitakan, ada sekitar 16 negara yang masuk daftar penilaian karena diduga melakukan kecurangan sehingga AS mengalami defisit perdagangan. Indonesia masuk dalam daftar negara tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), memang nilai ekspor produk non-migas Indonesia ke AS mencapai US$ 2,78 miliar pada Februari 2017 lalu. Ini menempatkan AS sebagai negara tujuan ekspor non-migas kedua terbesar bagi Indonesia, setelah Tiongkok sebesar US$ 2,91 miliar. Di urutan ketiga, India dengan nilai ekspor US$2,34 miliar.

Kemudian, secara keseluruhan, kinerja ekspor Indonesia sepanjang Februari lalu meningkat menjadi US$ 12,57 miliar, sedangkan impornya sebesar US$ 11,26 miliar. Hasilnya, Februari lalu, kinerja perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 1,32 miliar. Secara kumulatif, Januari-Februari Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 2,75 miliar. (red)