Saturday , March 23 2019
Home / ASWAJA / Jaringan Gusdurian Dapat Penghargaan Human Rights Award 2018 Asia

Jaringan Gusdurian Dapat Penghargaan Human Rights Award 2018 Asia

BERITA9, TAIWAN – Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD).

Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Tsai Ing-wen kepada

“Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional,” kata Alissa dikutip dari siaran pers.

Namun demikian, kata Alissa, penghargaan itu justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas, dan toleransi beragama.

“Bagi kami penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award,” katanya.

Alissa menambahkan, di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga :

“Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari 100 komunitas Gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur,” ucapnya.

Terkait penghargaan ini, TFD menilai Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, Jaringan Gusdurian selama ini tak kenal lelah berjuang untuk bebebasan beragama, hak minoritas, dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban.

Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Sementara itu, Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia di mana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menambahkan, bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis dalam masyarakat multi-etnis. (*)