Monday , September 23 2019
Home / Berita Baru / Menristekdikti:  Perguruan Tinggi  Nakal Dibina yang Rusak Dibinasakan
Menristek Dikti, M. Nasir bersama pimpinan perguruan tinggi se Sulawesi (foto: yahya/BERITA9)

Menristekdikti:  Perguruan Tinggi  Nakal Dibina yang Rusak Dibinasakan

BERITA9, MAKASSAR – Jika ada perguruan tinggi nakal tetap dibina, tetapi jika ada perguruan tinggi yang rusak maka dibinasakan.

Demikian ditegaskan Menteri Riset Tekhnologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir dihadapan pimpinan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta (PTS/PTN) pada acara silaturrahmi dan makan malam bersama di Makassar, Jum’at malam (21/12/2018).

Silaturrahmi disertai dengan dialog yang dipandu Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sulawesi, Prof. Dr Jasruddin.

Dijelaskan, pemerintah lewat Kemenristekdikti terus meningkatkan mutu dan kualitas proses pembelajaran pada pendidikan tinggi. Era milenial hanya perguruan tinggi bermutu yang mampu memenangkan persaingan, tegas Nasir.

Pemerintah juga telah menghilangkan dikotomi antara PTN dan PTS. Buktinya, bila ada perguruan tinggi bermutu akan dicari stakeholder tanpa menilai dari status kampus negeri atau swasta.

Izin pendirian prodi baru juga disederhanakan dan dimudahkan. Apalagi selama ini terkesan ada pat gulipat dengan pejabat yang menangani, tandasnya.

Baca Juga :

Memasuki tahun 2019 membuka prodi baru disederhanakan, asal memenuhi syarat akan diproses dalam hitungan waktu yang cepat, tegasnya.

Ada lima unsur perlu dihadirkan dalam membuka prodi baru, ada kelembagaan entah berupa universitas, sekolah tinggi dan sejenisnya, ada dosen lima orang, infrastruktur, keuangan serta kurikulum.

Kemudahan juga diberikan dalam penyusunan borang prodi baru yang diajukan tidak perlu terlalu tebal cukup maksimal 10 halaman dan proses waktu keluarnya izin juga tidak lama.

Prodi baru yang sudah mendapatkan izin prinsip, sambil menunggu izin operasional keluar, prodi baru itu sudah dapat menerima mahasiswa baru, tandasnya.

Prodi baru itu akan terus di awasi dan dibina LLDIKTI di daerah, jika proses pembelajaran selama dua tahun tidak berjalan sesuai aturan dan regulasi maka izin prodi baru itu akan dicabut tegasnya.

Pada acara silaturrahmi ini turut hadir, Sekretaris LLDIKTI IX, Dr. Hawignyo, MM, Ketua APTISI Wilayah IX-A Sulawesi, Prof Dr. Ma’ruf Hafidz, SH, MH.

Rektor UNM, Prof Dr. Prof. Dr. Husain Syam, MTP, Rektor Unesa, Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (AB-PPTSI) Wilayah Sulawesi Selatan, Dr. Mohammad Ridwan. (red)

Kontribusi : Yahya Mustafa