Thursday , February 21 2019
Home / Berita Baru / Gontor dan Ekonomi Protektif
Santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (foto Gontor)

Gontor dan Ekonomi Protektif

“Kalian ini mau nuruti kata hati atau nuruti kata orang?? Kalau nuruti kata hati, jangan pedulikan kata orang. Sebab orang itu kita bergerak kemanapun pasti dikomentari.

“Saya dulu buka UKK (koperasi Guru) dan KUK (Toko besi pesantren) dan Toko Buku saja habis-habisan dikomentari, dibilang Kyai Bisnis, Kyai Mata duitan, Kyai Matre, tapi saya jalan terus. Sekarang semua baru terbuka, pada ramai-ramai ikut-ikutan buka usaha. Saya tahu bahwa pesantren ini butuh biaya, utamanya untuk kesejahteraan guru. Tapi bagaimana biar ini tidak membebani santri, kesejahteraan guru tidak boleh diambilkan dari dana santri.

Kenapa? Biar para santri tidak berkata “Kamu kan sudah saya bayar….!!” Ini yang ingin saya hindari, maka saya buat Unit-Unit Usaha yang saat ini mencapai 23 buah. Itu semua untuk kesejahteraan guru…

Dulu saya banyak dimusuhi oleh orang yang saya tertibkan setorannya ke kantin. Karena dia itu cuma diminta setor oleh guru yang sekarang guru itu sudah wafat.

Mengajar di Pondok tidak, istrinya kerja di pondok juga tidak, bahkan anaknya saja tidak sekolah di Gontor. Lalu minta fasiitas setoran seperti guru-guru Gontor yang sudah berjuang untuk Gontor. Ini diprotes saya dulu, dikomentarin macam-macam. Tapi saya jalan terus, keluarga Gontor adalah orang yang sudah berushaha membantu Gontor, ini yang harus kita fikirkan kesejahteraanya….

Maka jangan dengarkan kata orang jika ingin maju. Bagus atau jelek, jalani saja. Kalau jelek ya dievaluasi ditengah jalan. Sebab dengerin kata orang itu ndak ada habisnya. Bahkan kita tidak bergerak sekalipun, itu tetap akan dikomentari, ini orang masih hidup atau sudah mati, kok cuma diam saja gerakannya. Maka itu, ikuti kata hatimu.

Kata Rasulullah “Istafti Qalbak”, Gontor sudah kenyang dicaci maki, Gontor juga sudah kenyang dipuji-puji…..!!”

——————**********—————–

Terngiang kembali nasehat Kyai Syukri itu ditelinga saya siang ini. Mengingatkan saya kepada konsep Ekonomi Protektif yang dijalankan Gontor.

Para santri dilarang beli diluar toko pesantren, untuk apa? Para santri dilarang jajan kecuali di kantin pesantren, untuk apa? Para santri dilarang langsung menyetor loundry kepada masyarakat kecuali kepada Bagian Loundry pesantren, untuk apa?

Para santri dilarang pesan baju dan kaos diluar harus kepada perusahaan konveksi pesantren, untuk apa? Padahal diluar belanjanya lebih murah, lebih lengkap, makannya mungkin lebih enak, tapi kenapa semuanya harus serba di pesantren?

Ada satu hal yang sangat perlu kita ingat, untuk membangun ekonoomi umat secara singkat, maka diperlukan pasar yang sudah jadi yang siap kita gerakkan. Karena Gontor sangat tahu, bahwa kalau Gontor terjun langsung kepada ekonomi umat, Gontor akan langsung digerus oleh perusahaan-perusahaan raksasa dengan modal ratusan trilliun untuk kemudian membuatnya jadi serpihan kecil yang hanya bisa menjadi konsumen dan tanpa pernah menjad produsen.

Gontor tahu itu, maka itulah Gontor melakukan Ekonomi Protektif seperti yang saya ceritakan di atas. Bisa jadi barang Gontor kalah murah, bisa jadi barang dari Gontor kalah lezat, bisa jadi baju buatan Gontor kurang rapi, tapi karena konsumennya jelas dan pasti, maka otomatis akan selalu ada perbaikan menjadi lebih baik lagi.

Air Mineral Darussalam (Amidas), Majalah Gontor, toko Usaha Kesejahteraan Keluarga (UKK) adalah salah satu yang dilahirkan dalam lautan cibiran pada awalnya. Tapi sekarang, tumbuh meraksasa dan mampu bersaing dengan produk lain.

Di Gontor 3 Kediri, kemarin saya baru saja diberitahu bahwa produksinya mencapai 2000 botol teh per hari itu, masih kurang ketika memasok Gontor puteri mantingan saja.

Saya terbelalak, pantas lah produsen teh dalam kemasan nasional sampai merengek kepada pak Kyai minta agar produknya bisa diterima kembali di Gontor. Karena mereka mengeruk keuntungan sedemikian besar dari pasara Gontor.

Yang paling penting dari gerakan Ekonomi Proteksi ini adalah, semua keuntungan digunakan Gontor untuk memberikan kesejateraan kepada para guru, bahkan juga untuk memberi subsidi kepada santri. Karena sungguh, dengan semua fasilitas yang ada, biaya bulanan yang dibayarkan santri itu ternyata hanya menutup 60% saja dari total kebutuhan santri. Darimana sisanya? Tentu saja dari keuntungan dari ekonomi proteksi ini…

Ibarat sebuah rumah, Gontor sekarang mulai giat mengatur, mana yang bisa dikonsumsi keluarganya, dan mana yang tidak boleh…karena dengan 24.000 penghuninya di seluruh Indonesia, maka potensi tidur itu harus selalu dibangunkan oleh Gontor.

Penulis : Oky Rachmatullah