Tuesday , October 15 2019
Home / Banyuwangi / Sudahkah Rakyat Memilih Wakilnya Dengan Benar ? (Bag 3 dari 3 tulisan)
Michael ditengah massa warga Banyuwangi saat kampanye beberapa waktu lalu (foto: Joko/BERITA9)

Sudahkah Rakyat Memilih Wakilnya Dengan Benar ? (Bag 3 dari 3 tulisan)

BERITA9, JAKARTA – Jatuhan air hujan yang turun dari langit ditambah hembusan angin yang cukup kuat, tak mampu membendung antusias masyarakat Banyuwangi hadir dalam sebuah acara pesta rakyat yang digelar Partai Demokrat setempat. Warga rela berbasah ria demi mendengarkan pidato politik ditambah bumbu program kerja partai besutan Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Sang orator, Michael Edy Hariyanto berhasil ‘membakar’ massa dengan narasi yang menyejukkan. Dihadapan ribuan massa, Michael memaparkan berbagai rencana kerja yang akan dia terapkan jika partainya menjuarai Pemilu 2019 di Banyuwangi.

Tidak hanya sekali dua kali ia mengucapkan itu, dihampir semua session kampanye partai berlambang Mercy itu digelar, selalu penuh dengan massa. Terlebih lagi, Partai Demokrat memboyong sederet nama tenar dalam setiap kampanyenya. “Demokrat pasti juara,” kata salah seorang warga Rogojampi kepada media ini Rabu, (24/4/2019).

Pendapat itu mungkin tak salah, pasalnya, disemua kampanye Demokrat, massa yang hadir tidak alang kepalang, berjibun. Bahkan, Michael selalu memberikan kejutan disetiap gelaran pendidikan politik itu. Terbaru, Michael menghadiakan beasiswa kepada bocah cilik gegara hafal lagu mars partai Demokrat.

Baca Juga : Runtuhnya Dinasti Kecurangan Melawan Ketulusan Hati

Lebih dari itu, penataan panggung yang disemua kampanyenya boleh dikatakan sangat mewah dan apik. Tak heran, biaya yang digelontorkan juga terbilang mahal. Lalu, apakah itu setara dengan hasil yang dicapai?

Dari data yang didapat media ini, Partai Demokrat Banyuwangi diperkirakan hanya meraih tidak lebih dari 7 kursi. Kok bisa, padahal kampanyenya mewah dan selalu sesak dengan warga lho?

“Membludaknya massa dikampanye partai, bukan menjadi ukuran partai itu akan mendapat suara banyak juga, massa yang hadir belum tentu mereka memilih partai itu,” kata pengamat politik LIPI Syamsudin Haris dalam perbincangan santai dengan Pimred BERITA9.CO di Jakarta Kamis (2/5/2019).

Menurut Syamsudin, massa yang hadir disebuah kampanmye partai politik atau caleg bisa dengan berbagai alasan, misalnya menikmati hiburan dikarenakan ada artis ternama, diajak teman karena ada iming-iming hadiah, datang karena dikasih uang saku atau datang karena menjadi pendukung fanatik partai atau caleg tersebut.

Baca Juga : Sudahkah Rakyat Memilih Wakilnya Dengan Benar ? (1 dari 3 tulisan)

Peneliti kawakan LIPI itu berkata, caleg atau parpol seyogyanya membentuk gerakan masif yang langsung menyentuh kebutuhan warga. Misalnya, kampanye door to dorr sembari membentuk kader disetiap titik yang dianggap berpotensi meraup suara. Kunci lainnya yakni mendapat dukungan dari tokoh agama dan masyarakat. “Jika dua hal tersebut dilakukan, saya yakin parpol atau caleg akan meraih suara yang cukup signifikan,” ujarnya.

Orang Baik akan Tetap Baik

Secara khusus, penulis mengenal betul sosok Michael Edy Hariyanto. Sebagai pengusaha sukses di Bumi Blambangan, Michael bukan orang yang suka formalitas.

Gaya pedesaan melekat dikehidupan sehari-hari. Ini bukan basa basi, penulis pernah beberapa hari jalan bareng dengan pemilik agro wisata terbesar di Banyuwangi itu. Saat makan, ia tak pernah pandang bulu soal tempat. Diemperan kaki lima pun jadi, padahal nggak akan sulit bagi dia makan ditempat yang prestisius.

Michael Edy, penyanyi Danang DA2 berinteraksi tanpa batas dengan rakyat Banyuwangi (foto : Joko/BERITA9)

Saat berdiskusi, Michael begitu antusias memaparkan rencana kerja membangun Banyuwangi menjadi lebih baik dari saat ini. Sebagai pengusaha agro wisata, ia tahu persis bagaimana meningkatkan produktivitas pertanian yang akan berimbas pada naiknya taraf hidup petani itu sendiri.

Baca Juga : Sudahkah Rakyat Memilih Wakilnya Dengan Benar ? (Bagian 2 dari 3 tulisan)

Dalam gerak politik, penulis menganggap Michael melangkah dengan menggunakan nurani. Sebagai bukti, agak mundur kebelakang, saat geger alas pelaporan puluhan Kepala Desa (Kades) se Banyuwangi yang ikut dalam pertemuan (saat itu) calon gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul.

(saat itu) Michael yang berposisi sebagai ketua tim pemenangan paslon gubernur dan wakil gubernur Jatim, Khofiffah Indar Parawansa-Emil Dardak, tak mau melengkapi laporan ke Bawaslu Banyuwangi. Hasilnya, Tim Gakkumdu Bawaslu Banyuwangi menyatakan tidak ada pelanggaran Pilgub yang dilakukan Gus Ipul.

Alasan Michael saat itu, agar ketidaklengkapan dokumen laporan diharapkan menjadi bahan temuan wasit Pilgub agar lebih mudah dalam proses penegakkan hukumnya. Lho kok bisa?

“Kami sengaja tidak melengkapi agar itu menjadi bahan temuan Panwaslu, tujuannya supaya Panwaslu bekerja maksimal dan menunjukkan diri kepada publik sebagai lembaga independent dan profesional,” kata Ketua Tim Pemenangan paslon Khofifah-Emil wilayah Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto beberapa waktu lalu.

Keengganan melengkapi dokumen laporan itu, kata Michael, secara pribadi ia melihat kepentingan yang jauh lebih besar dilandasi rasa welas asih kepada semua Kades yang mengikuti pertemuan tersebut.

Ia tidak percaya, 62 Kades itu akan berani melibatkan diri dalam ranah politik praktis karena dilarang dalam Pasal 71 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016. “Kades itu datang atas perintah atasan, sebagai bawahan, sangat wajar mereka hadir karena mentaati perintah atasan. Jadi yang harus disalahkan yah atasannya, bukan Kades,” ungkap Michael.

Posisi Kades pun bisa dimaklumi sangat galau dengan acara Rabu malam yang keramat itu. Bisa jadi, mereka sudah tahu akan bertemu dengan cagub Gus Ipul, tetapi tidak bisa menolak perintah atasan. Jika hadir, akan terkena tuduhan melanggar peraturan negara. Tidak hadir, maka dianggap membangkang perintah atasan. Hadir atau tidak sama-sama pilihan yang sulit tapi harus diambil dengan berbagai resiko.

Masuk akal keterangan Michael, yang harus diminta pertanggung jawaban adalah atasan Kades. Tapi siapa? Secara vertikal, ada dua tingkat atasan Kades yakni Camat dan Bupati. Lalu siapa yang memerintahkan para Kades itu datang? Hayooo siapa hayooo……

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Banyuwangi Michael Edy Hariyanto saat berada dirumah bocah Minul penerima beasiswa (foto: Joko/BERITA9)

Padahal, ada beberapa lembaga yang ramai-ramai melaporkan para Kades ke penegak hukum dengan tuduhan terlibat dalam politik praktis dan menerima dugaan gratifikasi. Sayang, laporan mereka ditolak dengan alasan sudah ada laporan dari Tim Pemenangan Khofifah-Emil yang bergerak sehari setelah acara Rabu malam 30 Mei yang syahdu itu.

Gegara sikap Michael yang berwelas asih itu, para Kades mulai membuang diri dari keterlibatan kontestasi Pilgub Jatim 2018 yang lalu. Para pamong desa itu merasa nyaman jauh-jauh dari semua tim sukses agar tidak terkena sanksi pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016.

Geger alas politik itu ternyata tidak dilawan dengan tindakan yang sama. Partai Demokrat Banyuwangi dibawah komando Michael, merubah strategi kampanye berhubungan langsung dengan rakyat. Dibuatlah tagline Demokrat Menyapa Pelosok.

Mengerahkan segala macam sumber, mulai sumber daya, tenaga, pikiran dan sumber uang, Demokrat Banyuwangi mulai merancang strategi meraih simpati warga Blambangan. Tidak sedikit kader dan simpatisan partai berlambang mercy itu berpanas-panas ria masuk keberbagai pelosok dusun, desa hingga RT, untuk sekedar berbagi makan pembuka puasa.

Tidak ada satupun acara khusus bahkan wabillqhususon yang dibuat Demokrat untuk meraih kemenangan Khofifah-Emil. Semua berjalan alami dan mengalir bagaikan air ditengah telaga (cieee penulis lag lebay). Strategi jitu yang dibuat Michael ternyata berhasil.

Kegagalan yang tak gagal

Memperbandingkan hasil pada saat Pilgub dengan Pileg 2019 ini tentu sangatlah tidak apik. Tetapi setidaknya, kegemilangan Michael menghantar Khofifah Indar Parawansa menang di Banyuwangi, menjadi sebuah catatan manis bagi perjalanan politik Michael.

Lantas bagaimana dengan hasil Pileg 2019? Bagi penulis, apapun hasil yang diraih saat ini, merupakan sebuah ketetapan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kerja keras dengan mengerahkan segala daya upaya, adalah ikhtiar seorang Michael. Namun, hasil akhir dan ketetapan Tuhan merupakan sebuah kepastian.

Berapapun kursi legislatif yang diraih Partai Demokrat Banyuwangi, harus tetap disyukuri karena rakyat Bumi Gandrung itu masih mempercayai harapannya ke Partai Demokrat.

Michael Edy Hariyanto bersama tokoh lintas agama (foto: Joko/BERITA9)

Dengan modal kursi yang telah digenggamnya, Michael dan Partai Demokrat bisa bekerja maksimal memperjuangkan aspirasi rakyat Bumi Blambangan.

Modal itu bisa dijadikan start awal memacu kinerja partai membangun Banyuwangi menjadi lebih baik. Dan mulai melakukan kaderisasi partai yang lebih membumi dan militan.

Penulis yakin, dengan kesungguhan hati dan kerja keras Michael memimpin anggota legislatif asal Demokrat akan mampu menjadi pilar perubahan baik bagi masyarakat.

Michael harus mulai belajar melupakan pihak-pihak yang secara nyata atau tidak, yang telah memanfaatkan momentum Pileg 2019 sebagai ajang meraup keuntungan pribadi. Sebab mereka para opurtunis politik itu tidak akan memikirkan Michael dan Demokrat lagi.

Rakyat Banyuwangi yang telah memberikan suaranya untuk Michael dan Partai Demokrat, percayalah, suara anda tidak akan sia-sia. Michael pasti akan melakukan segala daya untuk memperjuangkan hak dan martabat warga Banyuwangi. Sebab, Michael pernah berjanji kepada penulis, jika ia menjadi wakil rakyat tidak amanah, maka ia siap dimundurkan dari kursi legislatif. Janji itu pasti akan diingatnya.

Masih banyak sahabat-sahabat Michael dan Demokrat Banyuwangi yang akan setia tanpa pamrih membantunya mewujudkan impian mensejahterakan warga lewat jalur parlemen. Michael ada karena kami ada, kami ada karena Michael ada…… Salam Perjuangan

Penulis : HWI Pimred BERITA9 (Sindikasi)