Saturday , December 7 2019
Home / Banyuwangi / Warga Desa Aliyan Gelar Ritual Keboan
Ritual Keboan adat budaya Banyuwangi (Foto: Joko/BERITA9)

Warga Desa Aliyan Gelar Ritual Keboan

BERITA9, BANYUWANGI – Warga Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur  kesurupan, tingkah – lakunya layak Keboan (kerbau jadi-jadian), pada Minggu (8/9/2019).

Keboan merupakan tradisi turun temurun yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Keboan sendiri sebuah ritual adat permohonan kepada sang pencipta agar pertanian di Desa setempat bisa subur dan panen berlimpah.

Masyarakat setempat yang mayoritas sebagai petani berharap agar diberi keselamatan saat bercocok tanam, dan terhindar dari hama penyakit yang dapat merusaknya tanaman sewaktu waktu.

Selain itu, tradisi ini juga sebagai penolak balak agar warga Desa Aliyan terhindar dari gangguan-gangguan yang bersifat negatif, utamaya dijauhkan dari marabahaya dan penyakit.

Persiapan pra acara tradisi ini diawali sejak 1 minggu dengan kerja bakti membangun lawang lori atau gapura di masing-masing titik Desa. Lawang lori yang terbuat dari bambu itu dilengkapi dengan beberapa hasil panen petani mulai dari palawija, buah, sayur-sayuran, dan hasil panen lainnya.

“Lawang lori ini dibangun dari kesadaran masyarakat, dan acara ini digelar sebagai penggerak serta kolaborasi antara Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan adat Desa,” kata Budiono, Ketua Lembaga Adat setempat.

Tidak itu saja, bahkan beberapa acara pun juga digelar mengawali acara inti mulai dari, bazar kuliner, sonjo bareng (bersilaturahmi), pagelaran musik, hingga ditutup dengan istighosah.

“Tradisi ini juga disebut bersih desa yang digelar bulan suro atau muharram,” ujarnya.

” Adapun cerita sejarah Desa Aliyan, Keboan, dan Petani”.

Kerbau sejak lama telah menjadi bagian dari kehidupan para petani. Pasalnya, kerbau bukan sebagai hewan ternak pada umumnya yang dikonsumsi dagingnya. Tapi kerbau adalah mitra petani untuk menggarap sawah yang bisa memberikan kemakmuran.

Keboan di Aliyan identik seperti manusia yang kerasukan langsung oleh roh leluhur yang dahulu kala membabat hutan di Desa Aliyan. Tidak pandang siapa orangnya, bahkan keturunan leluhur ataupun bukan keturunannya, anak-anak, tua-muda, laki-laki dan perempuan bisa saja kerasukan layaknya kerbau.

Diceritakan, Desa Aliyan dulunya merupakan sebuah nama dusun yaitu ‘Karang Mukti’ yang memiliki tanah yang subur. Sebelumnya Karang Mukti sendiri salah satu wilayah Desa Mangir, yang memiliki riwayat dibabat oleh leluhur yakni Wongso Kenongo.

Terbentuknya Desa Aliyan, sebelumnya menurut cerita Budiono, warga Karang Mukti yang mayoritas suku Osing, Banyuwangi dikenal kegigihannya dalam bergotong royong ketika berpindah rumah.

“Orang dulu sebelum jadi nama Desa Aliyan sering pindahan rumah. Nah kata orang Osing itu ‘Ngalih-Ngalihan’, dan akhirnya Desa Mangir pecah, maka berdiri Desa sendiri dinamakan ‘Aliyan’,” papar Budiono yang merupakan kelahiran asli Aliyan.

Desa Aliyan memiliki tanah yang subur dan makmur, sangking makmurnya pada dahulu kala lama kelamaan terjadi gagal panen, persediaan padi di lumbung pun sampai habis.

Singkat cerita, akhirnya leluhur Wongso Kenongo bertirakat dan akhirnya dapat wahyu atau petunjuk dari sang pencipta yakni bahwa dua anaknya yakni Raden Pringgo dan Raden Pekik agar bertapa di hutan belantara.

Kemudian, selang berganti hari, bulan, dan tahun, leluhur Wongso Kenongo kedatangan seorang misterius yang kemudian diajak berkeliling hutan belantara untuk menemui kedua anaknya yang sedang bertapa. Usai bertemu kedua anaknya itu, seorang misterius itu pulang kerumah leluhur Wongso Kenongo.

“Tanpa disadari, orang tersebut menggelar tikar dibawah pohon besar dan kemudian melakukan pagelaran wayang menggunakan daun-daun dengan lakon Dewi Sri (Dewi padi) dan Sedono, dengan membawa cerita kemakmuran,” jelas cerita Budiono.

“Apa Benar, Tradisi Ritual Adat ‘Keboan Aliyan’ Sempat Vakum ?”

Tradisi ritul adat Keboan Aliyan sempat mengalami kevacuman selama 4 tahunan. Diceritakan, sekira pada tahun 1992-1996 tradisi ini tidak lagi diagendakan. Hal itu, disebabkan karena adanya kontroversi internal masyarakat setempat.

“Ada dulu selama 4 tahun lamanya, tradisi ini vacum karena adanya kontroversi. Namun dengan adanya musyawarah dengan Pemerintah Desa (Pemdes), tokoh masyarakat, agama akhirnya bisa terselenggara kembali,” kata Ketua Lembaga Adat Desa Aliyan, Budiono.

“Kejadian Aneh Ritual Adat Keboan Aliyan Hingga Kerasukan di Perantauan”

Kejadian aneh dan mistis berkembang dalam ritual adat Keboan Aliyan sering kali terjadi. Buktinya, ketika mengalami kevakuman, warga asli Aliyan yang sedarah dengan leluhur Wongso Kenongo ketika merantau di luar Pulau mengalami kerasukan layaknya kerbau, berlari dan berkubang di dalam lumpur.

“Dulu ketika vacum, warga sini yang di merantau di Sumatera, Riau, Bali pun juga kerasukan disana, akhirnya ya kami tokoh adat, masyarakat, agama berdo’a bersama agar diberi keselametan,” tandas Budiono

Selanjutnya, peristiwa aneh juga dialami oleh Wagito, warga asli Aliyan. Sebelum acara adat Keboan digelar, tokoh adat setempat berkeliling desa untuk mendata siapa saja yang akan ikut dalam ritual itu. Namun istri Wagito yakni Paini memberikan informasi bahwa suaminya tidak bisa bergabung dalam ritual ini karena mengalami sakit yang tidak bisa beraktivitas sebagaimana mestinya. Bahkan, Wagito hanya bisa berbaring di tempat tidur saja.

“Anehnya, ketika terdengar suara kendang dan gong, Wagito pun beranjak keluar rumah sambil lompat lompat kesurupan layaknya kerbau. Nah kan aneh,” ujar Budiono.

Dari situ tradisi Keboan terus berlangsung turun menurun sebagai wujud pengharapan hasil panen yang melimpah. Meski jaman sudah modern, tradisi ini tetap digelar dengan tujuan untuk melestarikan warisan nenek moyang.

“Puncak Acara Ritul Adat Keboan Aliyan”

Kepala Desa (Kades) Aliyan, Anton Sujarwo mengatakan, tradisi keboan ini, sangat dinanti warga masyarakat Desa Aliyan, bahkan warga Aliyan yang ada diperantauan akan mudik, ingin turut memeriahkan acara ini, dan bergotong royong menyiapkan segala sesuatunya.

“Dan acara Keboan ini juga sebagai silaturahmi warga desa,” ungakap Kades Aliyan, Anton Sujarwo.

Saat  melakukan ider bumi, lanjut Anton Keboan tersebut bertingkah layaknya petani yang sedang melakukan aktivitas bertani, seperti bercocok tanam, membajak sawah, menaburkan benih hingga mengairi sawah.

“Apa yang dilakukan oleh keboan itu sebagai gambaran para petani bercocok tanam, mulai membajak sawah, menaburkan bibit padi, hingga mengairi sawah,” paparnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tradisi ‘keboan’ Aliyan  ini tradisi asli warga desa Aliyan yang harus dilestarikan. Dan acara ini bagian dari Banyuwangi Festival sebagai apresiasi Pemerintah terhadap kekayaan asli warga lokal. Dimasukkannya tradisi keboan Aliyan ini, juga sebagai bentuk apresiasi warga dalam menjaga warisan para leluhur.

“Banyuwangi boleh maju, namun kita tetap menjaga budaya dan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat, dan Pemerintah tidak akan meninggalkan tradisi-tradisi ini. Apalagi tradisi ini sangat bagus, mengajarkan masyarakat harus guyub, saling gotong royong antar sesama warga,” ucap Bupati Anas.

Apalagi, lanjut bupati Anas perkembangan pariwisata Banyuwangi sangat maju. Majunya pariwisata ini tidak lepas dari kekayaan budaya asli yang ada di desa-desa, yang dikemas dalam atraksi budaya.

“Ciri khas tradisi budaya ini sebagai identitas yang membedakan budaya Banyuwangi dengan budaya daerah lainnya. Agar tradisi ini terus berkembang Pemerintah akan mendorong dan mengembangkan atraksi daerah ini menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Banyuwangi,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, tradisi Kebo-Keboan berkembang di dua desa. Selain Keboan di Desa Aliyan Rogojampi, tradisi kebo-keboan juga digelar di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. (red)

Laporan: Joko Prasetyo.