Tuesday , October 15 2019
Home / Banyuwangi / Ratusan PSHT Duduki Kejari Banyuwangi Minta Penangguhan Penahanan Anggotanya
Ilustrasi sertipikat (Foto Dok BERITA9)

Ratusan PSHT Duduki Kejari Banyuwangi Minta Penangguhan Penahanan Anggotanya

BERITA9, BANYUWANGI – Soal kasus pencukuran siswa secara paksa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi yang diduga dilakukan oleh guru honorer dan dua orang pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kini telah ditahan.

Namun, hal itu membuat para anggota PSHT di Bumi Blambangan tak terima atas penahanan yang menimpa anggotanya tersebut.

Pengacara dan Penasehat Hukum PSHT Terate Banyuwangi, Zaenal Aris Masruchi menjelaskan, kedatangannya di Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi ini untuk mengajukan surat penangguhan perkara terhadap anggota PSHT dengan atas nama Jaka Samudra dan Rizki Maulana atas perkara pidana yang dijerat pasal KUHP 170.

“Kami yakin, mereka (Jaka dan Rizki) sepenuhnya tidak bersalah. Maka dengan mengajukan surat permohonan ini semoga bisa dikabulkan oleh Kepala Kejari Banyuwangi,” tegas Zaenal Aris Masruchi, pada Senin (30/9/2019).

Zaenal Aris Masruchi menceritakan duduk permasalah yang menimpa anggotanya tersebut. Dirinya mengatakan bahwa, Jaka dan Rizki diminta melatih ekstrakulikuler olahraga silat PSHT di sekolah SD setempat. “Kami menyetujui soal ektrakulikuler kegiatan olahraga silat itu,” tuturnya.

Perintah atas perkara pidana ini, menurut Aris, guru honorer Arya Abri Sanjaya ini merupakan teman sewaktu SMP salah satu tersangka, yakni Jaka yang saat ini ditahan. Singkatnya, Arya ini memerintahkan kepada pelatih pelatih PSHT untuk melakukan potong rambut.

“Alatnya pun disiapkan oleh Arya, dan dua anggota PSHT ini sama sekali tidak tau menahu soal perlakuan yang akan menimbulkan dampak pidana,” ucapnya.

Selanjutnya, tuntuntan yang kedua, lanjutnya, pihak penasehat hukum PSHT akan berkoordinasi bersama jaksa penuntut umum (JPU) agar perkara ini segera disidangkan, mengingat tersangka Jaka dan Riski masih melanjutkan pendidikan di salah satu Peguruan Tinggi.

Hingga pada akhirnya, setelah dilakukan dialog bersama pihak Kejari Banyuwangi, maka memperoleh hasil bahwa penahanan sudah kewenangan pengadilan.

“Kami baru tahu hari ini jika Kejaksaan melimpahkan ke Pengadilan, kalau begitu kami juga meminta penangguhan penahan ke Kepala Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, dan pada hari ini, Senin (30/9/2019) akan mengirim surat itu secepatnya,” katanya.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Banyuwangi, Bagus Nur jakfar Adi Saputro mengatakan, tuntutan perguruan PSHT itu memohon agar ada penangguhan penahanan terhadap dua anggotanya yakni Jaka dan Rizky.

“Mereka (PSHT) meminta penangguhan penahanan kepada dua anggotanya, bukan dengan guru honorer Arya,” jelas Bagus.

PSHT, lanjut Bagus, telah mengirimkan permohonan itu ke Kejari sejak Kamis (26/9/2019) lalu. Menurutnya, sesuai perintah Kepala Kejari Banyuwangi, bahwa perkara ini menarik perhatian publik untuk segera dilimpahkan ke (PN).

“Dan hari ini per 30 September 2019 kami sudah melakukan pelimpahan ke PN Banyuwangi. Jadi otomatis segala bentuk penanganan perkara beralih ke PN Banyuwangi. Kami disini memfasilitasi temen-temen PSHT itu untuk penangguhan penahanan di PN Banyuwangi,” imbuhnya

Sedangkan yang kedua, masih Kasi Intel mereka mempertanyakan penggunaan pasal 170 dan pasal UU perlindungan anak. “Kalau itu sudah jelas secara yuridis kami menggunakan pasal 170. Jadi penahanannya bukan lagi dari Kejaksaan, tapi sekarang sudah menjadi kewenangan pihak Pengadilan,” ujarnya.

Rencananya, besok pada Selasa (1/10/2019) Kejari Banyuwangi akan berkordinasi dengan penasehat hukumnya untuk meminta secepatnya dikeluarkan penangkapan sederhana terkait penanganan perkara tersebut, hal itu mengingat situasi kondusif Banyuwangi.

“Tadi hampir terganggu aksi damai PSHT ini. Kami berharap penanganan perkara ini juga cepat dan transparan,” pungkasnya. (red)

Laporan: Joko Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *