Friday , December 13 2019
Home / Banyuwangi / Pengacara VS Ortu Korban Penculikan di Banyuwangi, Ini Masalahnya

Pengacara VS Ortu Korban Penculikan di Banyuwangi, Ini Masalahnya

BERITA9, BANYUWANGI – Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah gambaran nasib pasangan SN dan SP, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Bukan hanya menangguh pedih lantaran YS, buah hatinya yang masih duduk dibangku SMU telah diculik orang. Tapi mereka juga dikabarkan mengalami kasus dugaan penipuan dari salah seorang oknum pengacara.

Kisah pilu SN dan SP bermula dari pengungkapan kasus penculikan YS oleh petugas Polsek Pesanggaran, pada Sabtu 17 November 2019 lalu. Kala itu, korban beserta pelaku, Catur, berhasil ditemukan diwilayah Kecamatan Licin.

Menghadapi kenyataan anaknya diculik, keduanya pun marah dan menginginkan pelaku bisa dihukum berat. Laporan ke Polsek Pesanggaran pun dilakukan.

Diduga emosi orang tua korban yang dijadikan pintu masuk bagi Fendi Aditya, oknum pengacara asal Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Hasil penelusuran awak media, awalnya SN dan SP, ditemui DN, yang masih tetangga. Mereka mendapat masukan bahwa laporan ke pihak Kepolisian tidak akan direspon jika tidak didampingi pengacara. Dari situ, DN memperkenalkan orang tua korban kepada Advokat Fendi, yang kebetulan juga menjabat Ketua BPD Sumberagung.

Kabar beredar, senada dengan DN, Fendi disinyalir juga menyampaikan bahwa pelaporan hanya akan ditindak lanjuti Kepolisian jika didampingi pengacara. Infonya tersampaikan pula bahwa Polisi hanya akan gerak saat ada uang. Disitulah akhirnya SN dan SP sepakat meminta pendampingan Fendi dengan biaya Rp 5 juta.

Sampai akhirnya orang tua YS, mendapat penjelasan terkait mekanisme pelaporan dan kinerja Kepolisian. Keduanya pun sadar dan merasa dikibuli. Selanjutnya, SN dan SP menuntut agar Fendi mengembalikan uang Rp 5 juta yang telah diberikan. Jika itu tidak dilakukan, dia mengancam akan menempuh jalur hokum.

Kepada wartawan, Fendi Aditya, membantah telah melakukan dugaan penipuan terhadap orang tua YS, si korban penculikan.

“Ini murni saya sebagai pengacara didatangi klien, diminta mendampingi, sudah saya buatkan surat kuasa dan saya dampingi secara professional,” katanya, Kamis (21/11/2019).

Disebutkan, selama mendampingi proses pelaporan orang tua korban, dia mengaku telah bekerja secara professional. Mulai dari menemui penyidik hingga mendatangi SMU tempat sekolah korban.

“Ketika di Polsek ada ketidak sinkronan dalam penanganan kasus, sehingga saya mengundurkan diri sebagai kuasa hukum. Dan saya sudah menyampaikan kepada penyidik, mulai kemarin. Surat akan saya sampaikan segera,” ungkap Fendi.

Terkait biaya, dia juga mengaku akan dikembalikan kepada SN dan SP. Meskipun menurutnya uang Rp 5 juta tersebut seharusnya menjadi hak pengacara.

“Saya kembalikan, rencana sore ini,” katanya.

Kepada awak media, Fendi mengaku permasalahan dirinya dengan orang tua korban penculikan ini sudah selesai. Bahkan dia dan kliennya sudah duduk bersama dirumah Kepala Desa Sumberagung, Vivin Agustin.

“Kemarin sudah menyampaikan kalau tidak diperas, dipaksa dan sebagainya,” cetusnya.

Kepada wartawan, Fendi Aditya juga menegaskan bahwa dirinya tidak tahu dan tidak pernah menyampaikan kepada SN dan SP bahwa pelaporan hanya akan ditangani Kepolisian saat ada dampingan pengacara. Termasuk tentang kabar bahwa dia mengatakan Polisi hanya akan menindak lanjuti laporan ketika ada uang.

Sementara itu, Kades Sumberagung, Vivin Agustin, mengaku telah memanggil Fendi dan kedua orang tua SY dirumahnya. Dari tatap muka tersebut, diketahui bahwa pengacara Fendi telah menjalankan tugas secara professional.

“Pak Fendi bukan menipu, yang bersangkutan itu mendatangi rumahnya. Sebagai pengacara ya dibuatkan surat kuasa, kalau ada orang omong diluar itu salah,” katanya. (red)

Foto:Istimewa

Laporan: Joko Prasetyo