Monday , March 30 2020
Home / Berita Baru / Dihargai Sewaktu Menjabat, Dibuang Saat Pensiun, Diperlukan Saat Dibutuhkan
Foto nersama usai pertemuan antara Ellyunus Waruwu dengan mantan Bupati Nias Barat AA Gulo (nomor 2 & 3 dari kanan) (Foto Istimewa)

Dihargai Sewaktu Menjabat, Dibuang Saat Pensiun, Diperlukan Saat Dibutuhkan

Bagai guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan,’ Artinya dihargai sewaktu diperlukan, setelah tidak berguna lagi dibuang.

Penulis: Adrianus Aroziduhu Gulo

Sebelum penulis merangkai beberapa kata pada artikel ini, saya mengajukan pertanyaan reflektif yaitu, ‘Pernahkah pembaca merasa dihargai sewaktu diperlukan dan setelah tidak berguna lagi dibuang atau sekurang-kurangnya disingkirkan, didiamkan, diacuhkan oleh seseorang? Pasti. Terkecuali, kalau orang itu tidak punya rasa dan hidup sendiri di hutan rimba.

Respon pun berbeda-beda, ada yang menghadapinya biasa-bias saja, namun ada juga yang sedih dan marah, karena diperlakuan seperti “barang”. Hal ini sangat tergantung pada kondisi psikis dan mental serta iman seseorang.

Judul di atas dikutip dari sebuah peribahasa yaitu : ‘Bagai guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan,’ Artinya dihargai sewaktu diperlukan, setelah tidak berguna lagi dibuang. Hal ini sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari, karena itu jangan terkejut. Bisa saja terjadi, saat dibutuhkan anda disanjung seperti: pintar, penyayang, pemaaf, sesepuh, tokoh, berpengaruh,

Sebaliknya, ketika anda tidak diperlukan dianggap: bodoh, kaku, kurang pergaulan, tidak punya nyali, gagal total,dll. Bahkan ketika bertemu buang muka dan pura-pura tidak mengenal.

Apabila didekati secara hiperbolis, hati-hatilah anda sedang digiring oleh mereka dalam sebuah “kepentingan” yang sering mengatasnamakan: rakyat, perubahan, kesejahteraan, pembangunan dan segala macam slogan yang dikemas dan dibungkus dalam visi-misi yang indah dan visioner.

Bahkan berani menyebut nama Tuhan dan bersumpah agar anda percaya. Saat anda dibutuhkan mereka cari dan rangkul dengan sangat ramah, sopan, sabar dan kadang sedih dengan meneteskan air mata sebagai tanda keprihatinan. Namun, setelah anda tidak digunakan lagi, akan diremehkan dan dicampakkan. Tipe orang seperti ini dapat disebut oportunistis.

Fenomena ini sering muncul menjelang pesta demokrasi lima tahunan, semacam pilpres, pileg, pilgub, pilbup, pilwalkot, pikades, jugansaat helatan pemilihan pimpinan parpol, ormas atau organisasi kepemudaan.

Bakal calon pimpinan akan berporomosi keberhasilannya (calon incumbent) dengan bumbu tak sedap guna menjatuhkan saingannya. Tapi kebanyakan, si calon tidak akan mengatakan langsung, tetapi melalui para tim sukses yang dah dicekoki dengan sejuta janji jika sang calon memenangkan ‘pertandingan’.

Usai pertemuan, Ellyunus Waruwu (kedua dari kanan) saat menerima buku dari AA Gulo (kedua dari kiri) (Foto Istimewa)

Tak jarang, maupun melalui perantara, si calon akan mengeluarkan bujuk rayu, mulai janji jabatan, proyek dan tak ketinggalan pemberian materi yang dibungkus dalam kemasan ‘uang pengganti transportaksi, akomodasi’. Istilah di Nias Barat lo tarugi nalo rugi secara harafiah artinya tidak sampai kalau tidak ada uang. Akan tetapi, jika mereka sudah “jadi”, bisa saja anda dilupakan. Dengan alasan dulu anda sudah dibayar.

Mengapa Data Tidak Dibantah?

Pengalaman emperis penulis selama menjabat dan setelah tidak menjabat banyak yang memuji dan banyak yang mengkritik, mencemoh bahkan memfitnah dengan keji tanpa dibarengi data dan fakta.

Bagi penulis hal itu wajar dan biasa, tidak mungkin semua orang setuju pada tindakan dan kebijakan yang kita buat. Pasti ada pro kontra. Itulah resiko menjadi pemimpin.

Contoh, saat menjabat saya dinggap bodoh karena tidak mampu menghabiskan APBD, tiap tahun selalu ada silpa. Setelah tidak menjabat saya dituduh penyebab defisit APBD Tahun 2016. “Diantara penuduh ada mantan staf saya”. Tuduhan bahwa saya menyebab defisit APBD tahum 2016 suatu distorsi, tidak menggunakan akal sehat dan logika. Mengapa? APBD Tahun 2015 silpa Rp. 37 M. Logikanya, kalau APBD silpa berati tidak defisit.

Atas distorsi defisit APBD Ta 2016, saya klarifikasi beberapa kali melalui tulisan yang pernah dimuat pada media cetak dan online, juga saat pertemuan dengan Bupati Nias Barat Faduhusi Daely, SPd dkk tanggal 2 Nopember 2019, pertemuan dengan balon kada Eliyunus Waruwu, SP,Msi mantan Kadis PU kabupaten Nias Barat- Mareko Zebua,SH mantan Inspektur Kabupaten Nias Barat pada tanggal 2 Desember 2019. Pada kedua pertemuan tesebut saya tampilkan data dan fakta perkiraan penyebab defisit APBD Tahun 2016.

Pada kedua pertemuan tersebut pihak bupati Faduhusi Daely dkk maupun pihak Eliyunus Waruwu dkk tidak membantah data dan fakta yang saya tampilkan, malah mereka mengakui data dan fakta yang saya berikan benar, karena data dan fakta tersebut berasal dari sumber resmi yaitu: Peraturan Bupati Nias Barat Nomor : 3 Tahun 2016 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten Nias Barat Tahun Anggaran 2016 tanggl 3 Maret 2016 dan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Nias Barat Tahun Anggaran 2016 oleh BPK RI Perwakilan Sumatera Utara Nomor: 65.A/LHP/XVIII.MDN/07/2017, tanggal 12 Juli 2017.

Agar ada persepsi yang sama tentang “Perbup Nomor : 3 Tahun 2016” dibuat berdasarkan: Persetujuan bersama DPRD dengan Bupati tentang RAPBD 2016, hasil evaluasi Gubernur tentang RAPBD 2016, penyelarasan DPRD-Bupati atas evaluasi Gubernur tentang RAPBD 2016, kemudian dibentuk perda APBD 2016. Agar APBD 2016 lebih rinci dan jelas, dibuatlah penjabaran dalam “Perbup Nomor 3 Tahun 2016”. Maka Perbup Nomor : 3 Tahun 2016 tentang Penjabaran APBD 2016 mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi OPD. Namun sangat disayangkan Kadis PU kabupaten Nias Barat Eliyunus Waruwu tidak menghargai atau sekurang-kurangnya mengesampingkan Perbup Nomor : 3 Tahun 2016, tanggal 3 Maret 2016.

Hal ini nampak pada statemen Kadis PU sebagai berikut :” Utang berjumlah Rp. 48 milyar tersebut terdiri dari Rp. 28,8 milyar utang tahun 2017, sedangkan Rp. 19,2 milyar utang tahun 2016 ke bawah,” (berita koran SIB tanggal 23 April 2018 halaman 1 dan 15 kolom 2).

Kalimat tahun 2016 kebawah, saya sebagai mantan bupati menginterpretasikan bahwa, kaaimat “kebawah tahun 2016” berarti termasuk tahun 2015, 2014 dst. Untuk itu, agar mantan kadis PU Eliyunus Waruwu tidak salah sejak dari berpikir, maka saat mereka bertemu dengan saya tanggal 2 Desember 2019, saya ambil kesempatan meluruskan pernyataannya dengan menampilkan data dan fakta bahwa, retensi/ tunda bayar/dpal telah ditampung dalam APBD 2016 (induk) sebesar Rp. 29.131.483.701,00 dengan lengkap telah diurai dalam Perbup Nomor 3 Tahun 2016 pada pos Dinas PU, sebagai berikut:

  1. Pembangunan Infrastruktur Irigasi (dpal/retensi/tunda bayar) (2015) Rp.363.874.220 nomor rekening : 1.03.1.03.01.24.19. Halaman 14-16
  2. Pembangunan sarana prasarana pedesaan dpal/retensi/tunda bayar (2015) Rp.150.260.200 nomor rekening :1.03.1.03.1.30.12.5.2.3.21.01. Halaman 20
  3. Biaya Jasa Konsultan Pengawasan dpal/retensi/tunda bayar (2014) Rp.780.000.000. nomor rekening 1.03.1.03.01.31.12.5.2.2.21.03 Halaman 24
  4. Biaya Jasa Konsultan Pengawasan dpal/reteensi/tunda bayar (2015) Rp.342.001.475. nomor rekening 1.03.1.03.01.31.12.5.2.2.21.03 Halaman 24-27
  5. Pembangunan sarana prasarana pemukiman, air minum dan sanitasi dpal/retensi/tunda bayar (2015) Rp.132.663.930 nomor rekening 1.03.1.03.01.32.07.5.2.2.3.23.06. Halaman 27-29
  6. Pembangunan sarana prasarana pemukiman, air minum dan sanitasi dpal/retensi/tunda bayar (2014) Rp.53.234.610 nomor rekening 1.03.1.03.01.32.08.5.2.3.23.06 Halaman 29-30
  7. Pembangunan/rehabilitasi sarana prasarana pemerintah dpal/retensi/tunda bayar (2014) Rp. 42.136.000 nomor rekening 1.03.1,03.01.33.05. Halaman 31-32
  8. Pembangunan/rehabilitasi sarana prasarana pemerrintah dpal/retensi/tunda bayar (2015) Rp.3.388.532.270 nomor rekening 1.03.1.03.01.33.09. Halaman 32
  9. Pembangunan/peningkatan/rehabilitasi jalan dan jembatan dpal/retensi/tunda bayar (2014) Rp.2.632.890.515 nomor rekening 1.03.1.03.01.33.09.5.2.3.26.01 Halaman 40
  10. Pembangunan/peningkatan/rehabilitasi jalan dan jembatan dpal/retensi/tunda bayar (2015) Rp.19.198.977.262 nomor rekening 1.03.1.03.01.35.09.5.2.3.21.01 Halaman 41
  11. Pengembangan energi alternatif perdesaan dpal/retensi/tunda bayar (2015) Rp. 2.046.913.219 nomor rekening 1.03.1.03.01.3.01.18.06 hal 51. Kalau retensi, dpal, tunda bayar sudah dianggarkan pada Dinas PU, pada APBD Ta 2016 (induk), lalu pertanyaannya adalah: Mengapa utang itu tidak dibayarkan? Kalau belum dibayarkan dimana dana sebesar itu dialihkan pada PAPBD Ta 2016?. Mengapa masih melemparkn kesalahan pada pemerintah sebelumnya? Kalau sudah ditampung dalam APBD tahun 2016 artinya tinggal bayar. Kata bapak Gusdur, gitu aja kok repot.

Mengapa Baru Dicari Dan Minta Bertemu?

Awal bulan Oktober 2019 saat kami jalan pagi, Adieli Gulo menyampaikan bahwa Mareko Zebua dengan Eliyunus Waruwu mau silaturahmi kepada AAG. Jawaban saya waktu itu, ada apa gerangan minta bertemu? Mungkin minta saran atau nasehat berkaitan mereka akan mencalonkan pada pilkada 2020 di Nias Barat, jawab Adieli Gulo.

Kemudian, saya jawab kita cari waktu yang tepat. Saya tetap membuka diri, karena membangun komunikasi politik itu sangat baik dan penting. Selanjutnya, pada hari Rabu 27 November 2019, saya menelpon P. Aaron Waruwu menanyakan kondisi keponakan saya yang sakit.

Pada akhir pembicaraan P. Aaron menyampaikan bahwa Eliyunus Waruwu-Mareko Zebua ingin bertemu AAG. Silahkan saja diatur waktu Pastor, jawab saya singkat.

Bagaikan gayung bersambut pertemuan itu akhirnya terjadi pada tanggal 2 Desember 2019 bertempat di Museum Pusaka Nias-Gunungsitoli. Saya ditemani : Oneyus Halawa,SE, Ir. Nitema Gulo,Msi, Adieli Gulo, Drs. Fasaaro Gulo, Faoloaro Gulo,SPd,BE, Fonaha Zai, Fotani Gulo. Sedangkan Eliyunus Waruwu-Mareko Zebua ditemani : Drs. Fg. Martin Zebua, Mesakhi Zebua, SIP, Pdt. Kalebi Hia,STh, MTh, Pdt. Beni Gulo, STh, Lestarman Gulo, Siado Zebua. Mediator P. Aaron Waruwu, OSC.

Agar Eliyunus Waruwu-Mareko Zebua memahami prinsip-prinsip yang saya pegang selama memimpin Nias Barat, pada akhir pertemuan saya menyerahkan dua buku tulisan saya yaitu : Kenangan Indah Selama Menjadi Bupati dan Berjuang Dalam Pilkada Mempertahankan Integritas.

Ketika mediator memberi kesempatan kepada saya menanggapi paparan balon Kada Nias Barat Eliyunus Waruwu-Mareko Zebua, saya bicara to the point dengan memaparkan perkiraan penyebab defisit APBD Tahun 2016. Hal ini saya anggap penting, karena mereka mantan pejabat esolon II di Pemkab Nias Barat.

Kemudian menyampaikan beberapa pertanyaan reflektif seperti : Apakah tahu persaan bupati Faduhusi Daeli-wakil bupati Khenoki waruwu ketika mereka dengar kalian sudah bertemu dengan saya dalam rangka minta dukungan doa pada pilkada 2020? Masih ingatkah bahwa mereka atasan yang pernah kalian dukung, kagum, puji, puja? Mengapa ditinggal di tengah jalan? Mengapa besaing kepada orang yang pernah mengangkat kalian pada jabatan esolon II dan jabatan yang sangat strategis? Mengapa keharmonisan yang telah dibina selama ini begitu cepat berlalu?

Penulis seorang pensiun ASN dan 33 tahun bekerja di birokrasi tidak bisa mendeskripsikan, seandainya KPU Kabupaten Nias Barat menetapkan kalian sebagai Cakada. Apakah saat kampanye tidak segan mengkritik kebijakan mantan atasan? Menurut informasi, sampai saat ini Petahana (bupati-wakil bupati) maju pada pilkada Nias Barat tahun 2020. Apakah saat debat publik nanti, berani berdebat dan mengoreksi kebijakan mereka?. Seberapa parahkah kondisi Nias Barat sehingga mengundurkan diri dari jabatan dan ASN dan berencana maju pada Pilkada 2020 untuk melakukan perubahan? Mengapa perubahan tidak dimulai sejak menjabat? Silahkan direnungkan.

Agar motif pertemuan semakin jelas, saya masih mengajukan pertanyaan: Mengapa baru minta bertemu? Mengapa melalui pihak ketiga? Mengapa harus dimediasi? Mengapa mau bertemu dengan saya dekat pilkada? Mengapa tiba-tiba kalian menganggap saya orang penting? Mengapa pertemuan ini seperti didramatisir?

Padahal selama ini saya tinggal di Gunungsitoli dan tidak sulit dicari serta tidak ada syarat untuk bertemu dengan saya. Lain saat saya masih bupati perlu lewat ajudan, itupun kalau di kantor. Jika di rumah dinas tidak seketat di kantor. Apalagi di rumah pribadi Desa Sifalaete Tabaloho-Gunungsitioli tidak ada pos dan personil jaga.

Kalau saat bupati saja di rumah pribadi saya tidak ada pos dan personil jaga, apalagi saat tidak bupati lagi, semua orang bisa masuk dan bertemu dengan saya tanpa syarat. Lalu mengapa merasa dipersulit? Apakah setelah saya tidak bupati pernah kalian minta bertemu dan saya tolak? Mengapa mempersulit diri dan seperti ada masalah? Kalau pun ada masalah, lalu apa masalahnya? Siapa menciptakan masalah? Mengapa masalah itu tetap diingat. Apakah masalah itu tergolong dinas, pribadi, keluarga, adat, etika, politik? Biarlah Eliyunus Waruwu-Mareko Zebua menjawabnya, karena mereka yang ikhtiari ingin bertemu dengan saya.

Kondisi inilah yang membuat penulis masih tetap penasaran. Apakah selama 4 tahun terakhir tidak ada hal penting? Mengapa ketika kita ketemu di suatu tempat seperti menghindar, buang muka, pura-pura tidak kenal dengan saya? Mengapa begitu cepat terjadi perubahan sikap? Mareko Zebua pernah menjadi staf saya di Kesbangpol Kabupaten Nias, karena itu sedikit sudah tahu karakter saya. Mengapa sungkan bertemu saya secara langsung? Sementara Eliyunus sebagai yunior di ASN tidak perlu ragu,takut ketemu lansung senior. Apakah saya dalam penampilan, gaya, sikap, wajah seperti penampilan, gaya, sikap, wajah preman dan kriminal?

Kendatipun pertanyaan saya reflektif. Namun, ketika mereka menanggapinya dengan mengatakan babwa selama ini kami membatasi komunikasi dengan AAG hanya semata-mata karena kesibukan tugas dan keseganan sebagai mantan bupati, saya bisa memahami.

Walaupun idealnya dalam membina komunikasi tidak dibatasi saat : sibuk-sepi, segan-mau, butuh-abai, pejabat-staf, muda-tua, suka-duka, kaya-miskin, gembira-sedih, tetap menghargai dan memelihara komunikasi. Itulah sesungguhnya “persahabatan”.

Hubungan harmonis tetap lestari, kalau masing-masing punya prinsip bahwa mencari seseorang bukan karena ada maunya, melainkan karena saling membutuhkan dan menghargai sebagai saudara.

Penulis menyatakan pertemuan saya dengan Eliyunus-Mareko dkk, lebih pada silaturahmi selaku anak bangsa yang cinta damai, membangun komunikasi, juga meluruskan beberapa kesalahpahaman mengenai retensi, dpal/tunda bayar yang telah tertampung dalam APBD Tahun 2016. Nanum pada PAPBD Tahun 2016 dialihkan pada pos lain. Sementara dukungan pada pilkada perlu permenungan yang mendalam. Semoga pembaca bisa memahaminya.

One comment

  1. LUAR BIASA, MASIH SANGAT ENERGI…
    SANGAT BERHIKMAH