oleh

Soal Pailit KSP Tinara Banyuwangi, Muncul Hastag #TangkapBosKSPTinara

loading...

BERITA9, BANYUWANGI – Muncul kampanye hastag #TangkapBosKSPTinara dikalangan netizen Banyuwangi. Hastag tersebut adalah bentuk kepedulian terhadap nasib para penabung KSP Tinara, Rogojampi, yang kini telah dinyatakan pailit.

Gerakan tersebut digelorakan oleh Danu Budiono, melalui unggahan di akun Facebook (FB) pribadinya ‘Danu Budiono’. ‘Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelaku, tapi juga punya kekuasaan waspadalah, waspadalah’

#TangkapBosKSPTinara,” begitu bunyi status yang diposting Rabu kemarin (13/5/2020).

Karena kabar pailit KSP Tinara sudah menjadi konsumsi publik, unggahan tersebut langsung menuai beragam komentar.

Baca Juga : Nasib Tabungan Tidak Jelas, Penabung KSP Tinara Banyuwangi Menjerit

“Neng Singapore bose,” komentar pemilik akun Fb N Hidayat.

Dalam kolom komentar, N Hidayat melanjutkan dengan curhatan. Pemilik akun mengaku sebagai salah satu penabung di KSP Tinara. Dengan jumlah tabungan Rp 200 juta.

“Saya sdh nahan 2 mobilnya,” cetus N Hidayat.

“Tp jamaah saya byk yg belum diselesaikan, pdhl uangnya utk ngelunasin haji,” imbuhnya.

Baca Juga : Pailitnya Koperasi Tinara Dikhawatirkan Berdampak Pada Perekonomian Di Banyuwangi

Dikonfirmasi terpisah, Danu Budiono mengaku sengaja mengkampanyekan hastag #TangkapBosKSPTinara, karena prihatin dengan nasib para penabung. Terlebih mayoritas dari kalangan wong cilik. Ada yang peternak bebek, tukang odong-odong hingga buruh serabutan.

“Dan kami, jika dibutuhkan untuk membantu perjuangan hak penabung, insya Allah siap,” katanya kepada Wartawan, Kamis (14/5/2020).

Danu juga menyebutkan, pasca pandemi Covid-19, dia bersama penabung akan menggelar demo besar-besaran. Sekaligus mendorong DPRD Banyuwangi, untuk memanggil paksa Linggawati Wijaya, selaku pentolan KSP Tinara.

“Agar masalah ini clear. Dinas Koperasi selaku Pembina koperasi juga tidak boleh tutup mata, harus hadir sebagai penjembatan. Kalau perlu dewan melaporkan masalah ini ke Kementrian Koperasi, agar Kementrian tahu permasalahan selama ini,” ungkap Danu.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto, mengaku bahwa selama ini dewan sudah dan terus memperjuangkan nasib para penabung. Upaya memanggil Bos KSP Tinara juga beberapa kali dilakukan. Namun Linggawati Wijaya tidak hadir.

Baca Juga : Pusat Belanja Di Banyuwangi Dilakukan Test Rapid, Lima Warga Dinyatakan Reaktif

“Ketua DPRD Banyuwangi bersama jajaran pimpinan akan terus memperjuangkan nasib penabung,” tegasnya.

Pria yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Banyuwangi, ini mengakui bahwa upaya dewan saat ini tidak bisa leluasa lantaran terdampak Covid-19. Namun ketika kondisi kembali normal, langkah kongkrit dan tegas pasti akan dilakukan. Bahkan bukan hanya untuk meluruskan permasalahan KSP Tinara. Tapi juga evaluasi prosedur kepengurusan serta penegakan aturan terhadap seluruh koperasi yang ada di Bumi Blambangan.

“Kami menduga ada sejumlah hal yang melenceng ditubuh koperasi di Banyuwangi, dan itu tidak bisa dibiarkan, karena masyarakat kecil yang tentu akan menjadi korban,” ungkap Michael.

Baca Juga : Hentikan Alat Berat Sepihak, Dua Pemuda Songgon Akan Dilaporkan Mapolresta Banyuwangi

Seperti diketahui, pada 20 Januari 2020, tiba-tiba keluar putusan Pengadilan Niaga Surabaya, Nomor 76/Pdt.sus-PKPU/PN.Niaga.Sby Jo Nomor 76/Pdt.sus-Pailit/PN.Niaga.Sby, yang menyatakan bahwa KSP Tinara telah pailit. Padahal, pada bulan Oktober 2019, koperasi yang dikelola oleh Linggawati Wijaya bersama sang suami Budi Hartadi dan keluarga ini masih mengeluarkan warkat baru Simpanan Berjangka dari masyarakat.

Salah satunya milik Anip Hariyadi, warga Dusun Krajan, Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, dengan nominal tabungan Simpanan Berjangka Rp 450 juta.

Dan pada 28 Februari 2020, salah satu penabung, Jayadi Arif Budianto, melaporkan Linggawati Wijaya, selaku Bos KSP Tinara ke Polda Jawa Timur. Laporan Nomor LPB/13/II/2020/SUS/JATIM, tersebut terkait dugaan terjadinya tindak pidana penipuan dan pencucian uang, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP dan Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 jo Pasal 2 ayat (1) huruf (r) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Namun sayang, hingga kini awak media belum bisa konfirmasi baik kepada Linggawati Wijaya maupun suaminya, Budi Hartadi. Dua pentolan KSP Tinara, di Jalan Raya Rogojampi, Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, tersebut belum bisa dihubungi. (red)

Laporan: Joko Prasetyo

News Feed